![]() |
| http://thesagealliance.com |
Lalu, bagaimana dengan
bangsa kita yang telah dijajah sekitar 360 tahun lamanya? Anda bisa
membayangkan betapa besar bayangan menakutkan yang ada di dalam kepala
orang-orang terdahulu kita yang terus menumpuk-numpuk dari akumulasi yang
terkumpul dari generasi ke generasi yang disalurkan melalui wejangan-wejangan
seperti “biar pelan asal selamat”
atau “sekolah yang tinggi biar bisa dapat
pekerjaan lebih layak”. Membuat bangsa ini semakin kokoh dipuncak sebagai
bangsa inferior, bangga dengan
kelemahannya dan merasa aman-aman saja sedangkan bangsanya dirampok sana-sini.
Bukannya menyadarkan
bangsa ini untuk bangun dari kepelikan berpikir ini, pemerintah—mengkritik
pemerintah ini adalah hal yang paling memprihatinkan, karena kata-kata yang
pedas kepada pemerintah sering dipandang sinis, bahkan kini terancam somasi,
kok rasanya kita kembali pada masa seblum revormasi ya?—justru melanggengkan
watak berpikir bangsa inferior. Orang
miskin dipandang sebagai—menurut Bambang Ismawan—orang yang tak berpunya, the have not. Sehingga harus dicekoki
subsidi sebanyak yang dibisa pemerintah. APBN-Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dialihkan begitu melimpah untuk subsidi orang
miskin yang katanya the have not itu.
Meskipun begitu, subsidi yang tepat sasaran justru makin sulit ditemui.
BBM bersubsidi, dipakai
anak muda untuk trek-trekan berebut cabe-cabean, dipakai pengusa untuk
wisata, dipakai PNS untuk selingkuh. Lalu kemana orang miskin yang the have not itu? Mereka memilki mobil
untuk wisata, punya motor untuk trek-trekan—dan jumlah motor terus bertambah
setiap tahunnya di negeri ini, membuat macet jalan-jalan.
Makanya saya menjabat
tangan Bambang Ismawan dalam hal ini, sepakat, bahwa orang miskin kita
sesungguhnya bukanlah the have not. Orang
miskin harus dipandang sebagai the have.
Orang miskin kita memiliki motor, tanah, relasi, tenaga, otak, kemampuan untuk
berusaha, mereka the have hanya saja
ada yang sedikit dan ada yang tidak mengerti mengefisienkan apa yang sudah
dimilikinya.
Kalau Bung Karno
meminta bangsa ini untuk hidup berdikari;
bukan berarti meminta bangsa ini untuk berharap dicekoki subsidi terus menerus.
Sehingga orang miskin bangsa ini makin malas, makin inferior, dan tentu makin
banyak setiap tahunnya. Pemerintah dan social
entreprenure harus menjadi teman yang sanggup dirangkul oleh orang miskin,
untuk membantu mereka move on atau bahkan move up dari watak bangsa inferior menjadi bangsa yang superior, seperti halnya apa yang harus
dilakukan orang yang patah hati.
Aah, tetapi kicauaanku
ini sesungguhnya hanya kicauaan dari kacamata seorang Mahasiswa yang penuh
dengan keterbatasan pandangan dan ilmu. Sedangkan menurut Anis Matta, katanya,
bangsa ini tak bisa dimengerti hanya dengan melihat dari satu perspektif saja.
“Lebih daripada itu, kalau
teman-teman bersedia untuk menjadi kawan orang-orang miskin ini-the have ini, saya mengajak anda untuk
ikut gerakan #IndonesiaMoveUp! Dengan hanya satu syarat, bermusuhan dengan the inferior tersebut. Kita mulai dari
hal-hal kecil yang mungkin bisa kita lakukan.”
____________________________________________
Wank RD
One Of The Founders GARDA orgz |The Raiser #IMU

pemerintah hanya melihat yang di atas saja -_-
BalasHapus