10.2.14

Indonesia Move On!

http://thesagealliance.com
Menurut penelitian—saya lupa sumbernya, itu bisa anda temukan dalam hasil penelitian tentang otak manusia—otak manusia mampu mengingat sesuatu tanpa lupa hingga satu tahun lamanya meskipun dalam setahun itu sesuatu tersebut tak pernah di review. Selain itu, semakin sering anda review ingatan tentang sesuatu itu akan membuat otak akan semakin sulit untuk melupakan sesuatu tersebut, hingga bertahun-tahun kemudian. Itulah mungkin mengapa seorang yang patah hati sulit move on karena orang yang patah hati sering membuat dirinya tenggelam dalam pikiran-pikiran menyedihkan yang terus menerus diputar membuatnya semakin sulit untuk lupa.


Lalu, bagaimana dengan bangsa kita yang telah dijajah sekitar 360 tahun lamanya? Anda bisa membayangkan betapa besar bayangan menakutkan yang ada di dalam kepala orang-orang terdahulu kita yang terus menumpuk-numpuk dari akumulasi yang terkumpul dari generasi ke generasi yang disalurkan melalui wejangan-wejangan seperti “biar pelan asal selamat” atau “sekolah yang tinggi biar bisa dapat pekerjaan lebih layak”. Membuat bangsa ini semakin kokoh dipuncak sebagai bangsa inferior, bangga dengan kelemahannya dan merasa aman-aman saja sedangkan bangsanya dirampok sana-sini.

Bukannya menyadarkan bangsa ini untuk bangun dari kepelikan berpikir ini, pemerintah—mengkritik pemerintah ini adalah hal yang paling memprihatinkan, karena kata-kata yang pedas kepada pemerintah sering dipandang sinis, bahkan kini terancam somasi, kok rasanya kita kembali pada masa seblum revormasi ya?—justru melanggengkan watak berpikir bangsa inferior. Orang miskin dipandang sebagai—menurut Bambang Ismawan—orang yang tak berpunya, the have not. Sehingga harus dicekoki subsidi sebanyak yang dibisa pemerintah. APBN-Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara  dialihkan begitu melimpah untuk subsidi orang miskin yang katanya the have not itu. Meskipun begitu, subsidi yang tepat sasaran justru makin sulit ditemui.

BBM bersubsidi, dipakai anak muda untuk trek-trekan berebut cabe-cabean, dipakai pengusa untuk wisata, dipakai PNS untuk selingkuh. Lalu kemana orang miskin yang the have not itu? Mereka memilki mobil untuk wisata, punya motor untuk trek-trekan—dan jumlah motor terus bertambah setiap tahunnya di negeri ini, membuat macet jalan-jalan.

Makanya saya menjabat tangan Bambang Ismawan dalam hal ini, sepakat, bahwa orang miskin kita sesungguhnya bukanlah the have not. Orang miskin harus dipandang sebagai the have. Orang miskin kita memiliki motor, tanah, relasi, tenaga, otak, kemampuan untuk berusaha, mereka the have hanya saja ada yang sedikit dan ada yang tidak mengerti mengefisienkan apa yang sudah dimilikinya.
Kalau Bung Karno meminta bangsa ini untuk hidup berdikari; bukan berarti meminta bangsa ini untuk berharap dicekoki subsidi terus menerus. Sehingga orang miskin bangsa ini makin malas, makin inferior, dan tentu makin banyak setiap tahunnya. Pemerintah dan social entreprenure harus menjadi teman yang sanggup dirangkul oleh orang miskin, untuk membantu mereka move on atau bahkan move up dari watak bangsa inferior menjadi bangsa yang superior, seperti halnya apa yang harus dilakukan orang yang patah hati.

Aah, tetapi kicauaanku ini sesungguhnya hanya kicauaan dari kacamata seorang Mahasiswa yang penuh dengan keterbatasan pandangan dan ilmu. Sedangkan menurut Anis Matta, katanya, bangsa ini tak bisa dimengerti hanya dengan melihat dari satu perspektif saja.

“Lebih daripada itu, kalau teman-teman bersedia untuk menjadi kawan orang-orang miskin ini-the have ini, saya mengajak anda untuk ikut gerakan #IndonesiaMoveUp! Dengan hanya satu syarat, bermusuhan dengan the inferior tersebut. Kita mulai dari hal-hal kecil yang mungkin bisa kita lakukan.”
____________________________________________
Wank RD
One Of The Founders GARDA orgz |The Raiser #IMU



1 komentar:

  1. Anonim02.11.00

    pemerintah hanya melihat yang di atas saja -_-

    BalasHapus

Simposiumx. Diberdayakan oleh Blogger.

© SIMPOSIUMX, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena