![]() |
| http://daenggassing.com |
Berapa hari setelah kampanye tanda tangan #MakassarHarusAman
di Anjungan Pantaji Losari Minggu (22/2). Sepupu saya seorang perawat di UGD
salah satu rumah sakit swasta di Makassar mengirim sebuah foto di BBM. Foto
seorang pemuda berlumuran darah, kepalanya cedera berat. Setelah dikonfirmasi
pemuda itu adalah salah satu korban geng motor. Tak jelas masalahnya, menurut
kabar Ia diserempet dan jatuh dengan kepala lebih dulu.
Entah bagaiman, setelah itu beruntun kabar berita tentang
kejinya para geng motor menysul tak berhenti; melalui media online dan cetak. Warga
Makassar menjadi ketakutran keluar rumah. Kalau kita perhatikan di media,
seolah-olah Makassar berada pada situasi darurat dan mencekam. Seorang Nitizen
bahkan berkata sambil meminjam jargon
Walikota, Makassar dua kali lebih tidak aman dari palestina. Protesnya
kepada Walikotra Danny Pomanto yang
justru menyumbang 100 juta rupiah untuk palestina ketimbang mengurus masalah
geng motor dan keamanan kota Makassar.
Berita Tak Sedap
Melihat media online dan menyaksikan #MakassarTidakAman di
media sosial siapa saja akan bergidik. Ramai diberitakan tentang situasi tak
kondusif Makassar. Wajarlah kemudian orang-orang luar kota Makassar ingin tahu
apa yang terjadi. Sms pun masuk kepada saya dari berbagai daerah, mempertanyakan
kondisi sesungguhanya di Makassar. Sebagian bahkan ikut menebar tagar #MakassarHarusAman
atas dasar keprihatinan. Saya justru tak senang.
Kawan Muahammadiyah saya juga mengirim pesan yang sama. Mungkin
anda sudah tahu, bahwa bulan agustus nanti Makassar akan diserbu kader-kader
Muahammadiyah dari seluruh penjuru Indonesia. Namun setelah mendengar berita
tak sedap ini, mereka jadi pasang badan. Mereka mulai mempertanyakan kesiapan
kota Makassar dalam menyambut mukhtamar Muhammadiyah ke-47 tahun. Ketika sms masuk
saya katakan, "datanglah, Makassar tidak seburuk yang dibayangkan"
kata saya menenangkan. Dengan berseloroh Ia membalas, "Makassar harus aman
dulu barulah kami bersedia datang" katanya. Membacanya saya menjadi makin
gemes saja.
City Branding
Kata Subiakto pakar branding,
Brand adalah ikatan emosional antara konsumen dan produk atau perusahaan. Jadi,
brand tidak akan tercipta hanya dengan iklan, logo, slogan, apalagi dengan
ikon-ikon yang tidak mewakili rasa nyatanya di lapangan. Begitu pula dengan city branding, tercipta dengan pengalaman interaksi yang dirasakan
oleh turis yang berkunjung atau oleh warganya sendiri. Turis dan warga ini akan
membagi pengalamannya kepada orang lain di tempat lain, terciptalah efek MOW.
Apakah efeknya negatif atau positif itu tergantung pemerintah dan warga kotanya
sendiri. Sayang sekali belakangan ini efek MOW yang terdengar di telinga
tentang Makassar adalah kabar negatif yang tak sedap rasanya. Kecuali bagi
media yang berprinsip, bad news is good
news.
Setelah coba mencari tahu, baik lewat media online dan mengecek
langsung di lapangan, saya menemukan bahwa kampannye dengan tagar #MakassarHarusAman
ternyata menghadirkan polemik tersendiri.
Patut menjadi perhatian, kekuatan Nitizen telah menjelma
menjadi sarana baru dalam demokrasi modern. Penguasa tidak lagi bisa berbuat
seenaknya. Saya menyamakannya dengan Dewan Perwakilan Rakyat abad milenium. Mereka
mengorganisir diri, mengadakan musyawarah, dan mengawal kebijakan tanpa bayaran.
Sesuatu yang patut disyukuri.
Namun mengapa pengawalan dan kapanye kemarin dipolemikkan?
Sebenarnya semua telah setuju masalah geng motor harus segera di tuntaskan
sampai ke akar-akarnya. Kita geram dan gemas melihat pemerintah dan aparat
penegak hukum seperti lemah syahwat menghadapi geng motor. Tidak sebanding
rasanya geng motor yang notabene remaja dan anak muda mampu membuat aparat penegak
hukum yang terlatih dan memiliki peralatan canggih sampai kelimpungan nyaris
putus asa.
Hanya saja sebagian menjadi kurang setuju ketika pemilihan
kalimat #MakassarTidakAman yang kemudian dirubah menjadi #MakassarHarusAman digunakan
dalam kampanye. Kemunculan tagar tersebut menambah ketidak pastian kemanan di
kalangan masyarakat yang sudah begitu takut dengan berita geng motor yang terus
memakan korban. Sekiranya, teman-teman Nitizen yang mengorganisir diri dalam
masyarakat media sosial lebih memperhatikan tata kalimat suatu hari nanti. Saya
pun Nitizen yang ikut mendukung kerjaa nyata pengawalan kebijakan ini, yang
menurutku lebih nyata dibandingkan kerja pejabat berdasi yang katanya wakil
rakayat tetapi kerjanya cuma di kantor dan kongkow-kongkow di warkop.
Mari kita kawal kebijakan, kita paksa pemerintah dan
lemabaga pelayanan publik bekerja lebih keras dan lebih propesional. Jangan
biarkan mereka mandul terlalu lama. Juga, Sesekali pula kita kencangkan ikat
pinggang untuk keluar dari dunia maya dan berikan kerja nyata membantu
penyelesaian masalah masyarakat di lapangan. Bukan kah kita negeri gotongroyong?
Mari bergotongroyong, mari berjamaah, berhentilah saling melukai.
Wank RD
Mahasiswa dan Founder
Annexis



