18.2.15

Kelas Menengah Muslim dan Valentine Day

http://dailysmspk.net/
Tidakkah anda melihat ada yang berubah pada kelas menengah kita? Khususnya middle class umat muslim. Sebuah buku berjudul Middle Class Moslim merangkumnya sangat jelas. Anda bisa perhatikan sebuah perubahan sedang bekerja, ada yang bersifat evolusi sampai yang bersifat revolusi. Mulai dari perubahan yang biasa-biasa sampai perubahan yang luar biasa. Ada perubahan pada fisik, seperti munculnya istilah revolusi hijab modern. Makin banyak artis berjilab, dan penampilan mereka juga semakin teci dan modis. 

Namun ternyata bukan cuma perubahan pada fisik, pada pemikiran dan cara pandang juga mengalami perubahan. Mereka semakin kritis menanggapi isu. Tiba-tiba setiap orang menjadi merasa sangat memerlukan label halal; bank halal, makanan halal, dan informasi yang halal. Dengan bantuan kecanggihan teknologi, isu yang sampai kepada mereka dicek kembali, dipastikan kebenarannya. Banyak yang butuh Konsultasi, hingga para Ustaz laku keras di pasaran. Kenyataan tersebut membuat mereka menjadi sangat selektif. 

Valentine Day 


Sifat selektif kelas menengah muslim kita kembali terlihat menjelang perayaan hari Valentine Day. Baru-baru ini sebuah gebrakan berani dari Walikota Makassar yang melarang perayaan Valentine Day patut menjadi perhatian. Meskipun keputusan itu dinilai kontroversial, Ia telah menunjukkan sesuatu kepada kita. Bagitupula dengan pernyataan artis sensaional Syahrini, yang mengatakan tak akan merayakan Valentine Day, dengan alasan yang sangat sederhana because she is Moslem. 

Tidak cukup dengan itu. Masyarakat kelas menengah muslim kita juga tidak tinggal diam. Muncul berbagai gelombang sosial yang menyerukan kesadaran akan kelirunya Valentine Day. Sedangkan yang lain membuat sebuah kegiatan besar untuk mengalihkan perhatian dari perayaan Valentine Day. Anak muda bergerak, orang tua menasehati, dan gelombang besar gerakan sosial ini mencipta perubahan. Mulai dari pejabat hingga rakyat biasa menyerukan hal yang sama. Apa yang terjadi selanjutnya? 

Sebuah survei menyebutkan terjadi tren penurunan terhadap peserta perayaan Valentine Day tahun 2014. Dan diramalkan untuk tahun ini juga akan mengalami penurunan (lagi). 

Apa kabar dengan bisnis? 


Kampanye untuk menjauhi perayaan Valetine Day tentu membuat gusar para pedagang. Cukong-cukong yang meraup banyak untung tentu tak akan senang. Keputusan Dany Pomanto Walikota Makassar juga disusul dengan protes dari para pedagang merchandise. Jika tak ada atau cuma sedikit yang merayakan Valentine Day, keuntungan mereka juga pasti akan terganggu. 

Perayaan Valetine Day memang memberikan keuntungan besar bagi bisnis. Bagi negara atau kota destina yang langganan menjadi tempat untuk merayakan Valentine Day, mengalami lonjakan pendapatan tak biasa. Tahukah anda, Valetine Day menjadi hari perayaan terbesar selanjutnya setelah natal dan tahun baru. Anda bisa bayangkan seberapa besar keuntungan yang dapat diserap. Maka wajar jika protes terjadi dimana-mana. Untuk itu saya ingin meminjam istilah Rhenald Kasali tentang itu; perubahan selalu bising. 

Orang-orang yang masih terbelenggu pikirannya, tidak mencoba melihat kebenaran dibalik kenyataan yang terjadi, kelompok sakit hati, dan kelompok yang terlukai akan mengamuk. Mereka menolak untuk meningalkan status quo mereka, meskipun telah datang kebenaran kepada mereka. Seruan yang datang dianggapnya seruan orang-rang radikal dan garis keras. Nilai-nilai budaya, seruan agama, peringatan para tokoh besar, dan nasehat orang tua diabaikan demi segenggam keuntungan material. 

Mereka tidak ikut dalam gelombang perubahan ini, memutuskan menjadi pengikut dan terbodohi. Tidak termasuk dari Muslim yang selektif tadi, perkara halal bukan hal yang perlu diperhitungkan, kalau urusannya perut dan nafsu segala hal yang haram menjadi halal. Sekarang, sudahkah anda cek kembali dimana anda dalam pesta besar perubahan ini? 

Wank RD

0 komentar:

Posting Komentar

Simposiumx. Diberdayakan oleh Blogger.

© SIMPOSIUMX, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena