10.2.14

Semua tertipu, valentine day; Love is like the wind


http://www.wdyl.com
 Love is like the wind, you can't see it but you can feel it” - Nicholas Sparks

Demikian kata Nocholas Sparks. The Wind mampu meratakan sebuah perkampungan di bagian timur Amerika dan di Haiti, namun juga mampu membawa kita hanyut dalam keheningan yang tenang di bibir pantai Bira di Bulukumba. Meski begitu the wind tak pernah nampak, Ia hadir bersama debu, terbang bersama dedaunan, dan menyapu pantai bersama air laut. Dapat kita rasakan kehadirannya. Maka Nicholas menyamakannya dengan Love.

Love pernah membuat Mughal Shāh Jahān menghabisakan beberapa hartanya untuk membangun Tajmahal. Juga, membuat seorang yang bengis bernama Hitler tewas setelah banyak menghabisi orang-orang Yahudi. Mughal dan Hitler tak pernah bisa melihat apa dan siapa The Love, tetapi mereka bisa merasakan kehancuran yang dibuat The Love kepada diri mereka.

Valentine Day

Waktu itu, aku tiba-tiba bersemangat mengumpulkan uang, aku berhemat uang jajan, dan mengurangi pembelian pulsaku. Aku bahkan sempat dapat sewa menuliskan tugas sekolah kawanku, semua kulakukan agar dapat mengumpulkan uang lebih banyak. Tetapi semua itu hanya sampai pertengahan Februari. 14 Februari.

Seorang gadis lucu meracuni pikiran dan hatiku. Aku tak pernah bisa melihat racunnya, tetapi aku merasakannya. Benar saja, karena gadis lucu itu meracuniku dengan cinta. Maka seketika aku berubah menjadi hemat dan ulet di awal-awal bulan Februari, mengumpulkan uang, membeli sebuah boneka lucu di Citra Store, untuk kukirim ke halaman rumah gadis lucu itu tepat di pagi hari, 14 februari.

Ketika Ia baru bangun dari tidurnya, boneka itu kuharap dapat mengejutkannya. Dan aku puas karena itu bisa membuktikan bahwa aku ini bukan lelaki biasa. Ini terjadi padaku kawan, nyata. Meskipun akhir ceritanya lain; Boneka itu masuk di rumah yang salah, ke rumah kawanku, dan sialnya kawanku itu adalah seorang laki-laki. Tragis.

Sejarah Valentine

Kisah tragis masa laluku itu melengkapi banyak cerita tentang Valentine Day. Maka saya memutuskan  untuk menuliskan tentang Valentine Day dalam sebuah catatan sederhana ini.
Nampaknya penduduk dunia dalam banyak hal sering tanpa sadar, back to the past. Seperti halnya Valentine Day. Bukan saya tidak setuju dengan pelestarian, tetapi budaya tidak semua harus dilestarikan.

Kebijakan Kaisar Roma Claudius II  melarang para serdadunya untuk menikah membuat Valentinus berontak. Ia diam-diam menikahkan para serdadu. Valentinus sendiri konon adalah seorang pastur di Roma. Berita itu membuat geram Kaisar Roma Claudius II, Valentinus ditangkap, dan dipenggal. Berdasarkan kisah itulah Paus Gelacius I menggelarnya martir atau syuhada, dan menyematkan kata Santo didepan namanya. Santo Valentinus dianggap orang suci, pahlawan yang perlu diagunggkan.
Namun dicurigai itu hanya akal-akalan Gelacius I, Ia menjadikan kisah Santo Valentinus sebagai alat untuk kembali menuai simpati umat dari kaum pagan penyemba dewa.  

Bangsa pagan, kaum Yunani kuno, meyakini adanya bulan Gamelion. Bulan antara pertengangahan januari sampai pertengahan februari. Diyakini saat itu adalah dimana Dewa Zeus bersetubuh dengan dewa Hera. Bulan tersebut dianggap bulan subur, maka ketika tanggal 15 Februari mereka berkumpul. Perayaan itu dinamakan Lupercelia. Wanita-wanita akan memasukkan nama-nama mereka ke dalam sebuah tempat undian untuk dipilih oleh para pria. Yang berjodoh akan melakukan hubungan semalam, kalau beruntung mereka akan menikah.

Perayaan ini berbanding terbalik dengan kebijakan Roma yang melarang orang untuk menikah. Ini menghawatirkan paus Gelacius I, maka Ia pun membuat-buat kisah tentang Santo Valentinus ini, dan menjadikan tanggal 14 Februari sebagai hari perayaannya. Perayaan itu dibuat serupa tapi tak sama dengan perayaan kaum pagan, tetap ada undian juga, tetapi pria dan wanita sama-sama mengambil undian. Gelacius I berharap distorsi yang dilakukannya mampu menyerap simpati kembali dari umat.

Hingga sekarang Valentine Day menjadi perayaan yang terbesar ke-dua setelah Natal. Waw luar biasa ya?

Namun, siapa tokoh utamnya?

Setelah membaca tentang sejarah valentine day ini, sesungguhnya tokoh utama dari sejarah panjang Valentine day bukanlah seorang Santo Valentinus, juga bukan Kaisar Claudius II, bukan juga paus Gelacius I. Gelacius I mungkin bisa tersenyum bangga dengan apa yang sudah ia lakukan. Tetapi sesungguhnya Ia pun orang yang tertipu, jika Ia memang bangga.

Tahukah anda, valentine day kini sudah menjadi komoditi bisnis yang menggiyurkan bagi para CEO. Menejer pemasaran tentu sangat paham tentang ini. Menurut Asosiasi Kartu Ucapan Amerika, pemesan kartu ucapan valentine day meningkat pesat dari tahun ke tahun, dan 85% dari yang memesan adalah wanita. Perusahaan coklat di Jepang meraup laba berlipat-lipat dari hari biasanya, penjualan perhiasaan di hongkong untung besar, restoran-restoran di Paris penuh, dan tempat wisata di Indonesia dipenuhi muda-mudi. Jadi apakah pebisnis pelaku utamanya? Sesungguhnya juga bukan.

Apapun perspektif anda tentang Valentine Day, ia tetap adalah sebuah hari yang fenomenal, yang menyita hampir seluruh perhatian penduduk dunia. Menggerakkan bisnis, memicu polemik antar agama, menggoda kebijakan pemerintah di timur sana, dan lain-lain.  

Semua ini bukan ulah Valentinus, ia tak tahu apa-apa. Seandainya bulan Gamelion dan hari raya Lupercelia tak pernah diyakini oleh kaum pagan, itu tidak akan memicu Gelacius I untuk mengangkat nama seorang Valentinus menjadi sebuah perayaan, nama Valentinus akan berhenti di altar pemenggalan, dan dilupakan. Fenomena ini juga bukan ulah Gelacius I, apa yang Ia harapkan tak sefenomenal ini, dampak ini terlalu luas, Gelacius I hanya ingin menyaingi kaum pagan bukan untuk menjadi perayaan besar seperti ini. Buktinya perayan Valentine day pernah dilarang oleh paus.

Jadi apakah ini ulah para pebisnis? Bukan sama sekali. Bukan mereka yang mencipta cerita ini, mereka hanya mebesar-besarkannya lewat marketing.

Pelaku utamanya adalah racun. Racun yang menguasai saya waktu zaman sekolah dulu, racun yang membunuh Hitler, racun yang menggalaukan Mughal, racun yang diperjuangkan seorang Valentinus, racun yang dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis.

Sesungguhnya Valentine day tak akan seheboh ini, sehebat apapun para menejer pemasaran mempromosikan, membesar-besarkannya seandainya isunya bukan the love maka sulit rasanya mendapat perhatian penduduk dunia yang beragam corak pikiran ini. Sulit rasanya membuat para penganut agama membangkang dengan tetap merayakannya kalau isunya bukan the love. Sulit rasanya mengembalikan simpati umat kepada paus Gelacius I waktu itu.

Iya kawan, the love is the maker. The love memasuki corong yang tidak diketahui, memicu, mempengaruhi, dan bersekutu dengan nafsu. Dan beginilah kita sekarang.

Bukankah Nicholas sudah mengatakan “Love is like the wind, you can't see it but you can feel it”?
______________________________________
Wank RD
One Of The Founders GARDA orgz |The Raiser #IMU

0 komentar:

Posting Komentar

Simposiumx. Diberdayakan oleh Blogger.

© SIMPOSIUMX, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena