![]() |
| http://www.wdyl.com |
Demikian kata Nocholas Sparks. The Wind mampu meratakan sebuah perkampungan di bagian timur Amerika dan di Haiti, namun juga mampu membawa kita hanyut dalam keheningan yang tenang di bibir pantai Bira di Bulukumba. Meski begitu the wind tak pernah nampak, Ia hadir bersama debu, terbang bersama dedaunan, dan menyapu pantai bersama air laut. Dapat kita rasakan kehadirannya. Maka Nicholas menyamakannya dengan Love.
Love pernah membuat Mughal Shāh Jahān
menghabisakan beberapa hartanya untuk membangun Tajmahal. Juga, membuat seorang
yang bengis bernama Hitler tewas setelah banyak menghabisi orang-orang Yahudi.
Mughal dan Hitler tak pernah bisa melihat apa dan siapa The Love, tetapi mereka
bisa merasakan kehancuran yang dibuat The Love kepada diri mereka.
Valentine
Day
Waktu itu, aku tiba-tiba bersemangat mengumpulkan
uang, aku berhemat uang jajan, dan mengurangi pembelian pulsaku. Aku bahkan
sempat dapat sewa menuliskan tugas sekolah kawanku, semua kulakukan agar dapat
mengumpulkan uang lebih banyak. Tetapi semua itu hanya sampai pertengahan
Februari. 14 Februari.
Seorang gadis lucu meracuni pikiran dan hatiku. Aku
tak pernah bisa melihat racunnya, tetapi aku merasakannya. Benar saja, karena
gadis lucu itu meracuniku dengan cinta. Maka seketika aku berubah menjadi hemat
dan ulet di awal-awal bulan Februari, mengumpulkan uang, membeli sebuah boneka
lucu di Citra Store, untuk kukirim ke
halaman rumah gadis lucu itu tepat di pagi hari, 14 februari.
Ketika Ia baru bangun dari tidurnya, boneka itu
kuharap dapat mengejutkannya. Dan aku puas karena itu bisa membuktikan bahwa aku
ini bukan lelaki biasa. Ini terjadi padaku kawan, nyata. Meskipun akhir ceritanya
lain; Boneka itu masuk di rumah yang salah, ke rumah kawanku, dan sialnya kawanku
itu adalah seorang laki-laki. Tragis.
Sejarah
Valentine
Kisah tragis masa laluku itu melengkapi banyak
cerita tentang Valentine Day. Maka saya memutuskan untuk menuliskan tentang Valentine Day dalam
sebuah catatan sederhana ini.
Nampaknya penduduk dunia dalam banyak hal sering
tanpa sadar, back to the past. Seperti
halnya Valentine Day. Bukan saya tidak setuju dengan pelestarian, tetapi budaya
tidak semua harus dilestarikan.
Kebijakan Kaisar Roma Claudius II melarang para serdadunya untuk menikah
membuat Valentinus berontak. Ia diam-diam menikahkan para serdadu. Valentinus
sendiri konon adalah seorang pastur di Roma. Berita itu membuat geram Kaisar
Roma Claudius II, Valentinus ditangkap, dan dipenggal. Berdasarkan kisah itulah
Paus Gelacius I menggelarnya martir atau syuhada, dan menyematkan kata Santo
didepan namanya. Santo Valentinus dianggap orang suci, pahlawan yang perlu
diagunggkan.
Namun dicurigai itu hanya akal-akalan Gelacius I, Ia
menjadikan kisah Santo Valentinus sebagai alat untuk kembali menuai simpati
umat dari kaum pagan penyemba dewa.
Bangsa pagan, kaum Yunani kuno, meyakini adanya
bulan Gamelion. Bulan antara pertengangahan januari sampai pertengahan
februari. Diyakini saat itu adalah dimana Dewa Zeus bersetubuh dengan dewa
Hera. Bulan tersebut dianggap bulan subur, maka ketika tanggal 15 Februari
mereka berkumpul. Perayaan itu dinamakan Lupercelia. Wanita-wanita akan memasukkan
nama-nama mereka ke dalam sebuah tempat undian untuk dipilih oleh para pria. Yang
berjodoh akan melakukan hubungan semalam, kalau beruntung mereka akan menikah.
Perayaan ini berbanding terbalik dengan kebijakan
Roma yang melarang orang untuk menikah. Ini menghawatirkan paus Gelacius I,
maka Ia pun membuat-buat kisah tentang Santo Valentinus ini, dan menjadikan
tanggal 14 Februari sebagai hari perayaannya. Perayaan itu dibuat serupa tapi
tak sama dengan perayaan kaum pagan, tetap ada undian juga, tetapi pria dan
wanita sama-sama mengambil undian. Gelacius I berharap distorsi yang
dilakukannya mampu menyerap simpati kembali dari umat.
Hingga sekarang Valentine Day menjadi perayaan yang
terbesar ke-dua setelah Natal. Waw luar biasa ya?
Namun,
siapa tokoh utamnya?
Setelah membaca tentang sejarah valentine day ini,
sesungguhnya tokoh utama dari sejarah panjang Valentine day bukanlah seorang
Santo Valentinus, juga bukan Kaisar Claudius II, bukan juga paus Gelacius I.
Gelacius I mungkin bisa tersenyum bangga dengan apa yang sudah ia lakukan.
Tetapi sesungguhnya Ia pun orang yang tertipu, jika Ia memang bangga.
Tahukah anda, valentine day kini sudah menjadi
komoditi bisnis yang menggiyurkan bagi para CEO. Menejer pemasaran tentu sangat
paham tentang ini. Menurut Asosiasi Kartu Ucapan Amerika, pemesan kartu ucapan
valentine day meningkat pesat dari tahun ke tahun, dan 85% dari yang memesan
adalah wanita. Perusahaan coklat di Jepang meraup laba berlipat-lipat dari hari
biasanya, penjualan perhiasaan di hongkong untung besar, restoran-restoran di Paris
penuh, dan tempat wisata di Indonesia dipenuhi muda-mudi. Jadi apakah pebisnis
pelaku utamanya? Sesungguhnya juga bukan.
Apapun perspektif anda tentang Valentine Day, ia
tetap adalah sebuah hari yang fenomenal, yang menyita hampir seluruh perhatian
penduduk dunia. Menggerakkan bisnis, memicu polemik antar agama, menggoda
kebijakan pemerintah di timur sana, dan lain-lain.
Semua ini bukan ulah Valentinus, ia tak tahu
apa-apa. Seandainya bulan Gamelion dan hari raya Lupercelia tak pernah diyakini
oleh kaum pagan, itu tidak akan memicu Gelacius I untuk mengangkat nama seorang
Valentinus menjadi sebuah perayaan, nama Valentinus akan berhenti di altar
pemenggalan, dan dilupakan. Fenomena ini juga bukan ulah Gelacius I, apa yang
Ia harapkan tak sefenomenal ini, dampak ini terlalu luas, Gelacius I hanya
ingin menyaingi kaum pagan bukan untuk menjadi perayaan besar seperti ini.
Buktinya perayan Valentine day pernah dilarang oleh paus.
Jadi apakah ini ulah para pebisnis? Bukan sama
sekali. Bukan mereka yang mencipta cerita ini, mereka hanya mebesar-besarkannya
lewat marketing.
Pelaku utamanya adalah racun. Racun yang menguasai
saya waktu zaman sekolah dulu, racun yang membunuh Hitler, racun yang
menggalaukan Mughal, racun yang diperjuangkan seorang Valentinus, racun yang
dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis.
Sesungguhnya Valentine day tak akan seheboh ini,
sehebat apapun para menejer pemasaran mempromosikan, membesar-besarkannya seandainya
isunya bukan the love maka sulit rasanya mendapat perhatian penduduk dunia yang
beragam corak pikiran ini. Sulit rasanya membuat para penganut agama
membangkang dengan tetap merayakannya kalau isunya bukan the love. Sulit
rasanya mengembalikan simpati umat kepada paus Gelacius I waktu itu.
Iya kawan, the
love is the maker. The love memasuki corong yang tidak diketahui, memicu,
mempengaruhi, dan bersekutu dengan nafsu. Dan beginilah kita sekarang.
Bukankah Nicholas sudah mengatakan “Love is like the wind, you can't see it but
you can feel it”?
______________________________________
______________________________________
Wank RD
One Of The Founders GARDA orgz |The Raiser #IMU

0 komentar:
Posting Komentar