6.3.15

Di Balik Cerita #MakassarHarusAman




http://daenggassing.com
Berapa hari setelah kampanye tanda tangan #MakassarHarusAman di Anjungan Pantaji Losari Minggu (22/2). Sepupu saya seorang perawat di UGD salah satu rumah sakit swasta di Makassar mengirim sebuah foto di BBM. Foto seorang pemuda berlumuran darah, kepalanya cedera berat. Setelah dikonfirmasi pemuda itu adalah salah satu korban geng motor. Tak jelas masalahnya, menurut kabar Ia diserempet dan jatuh dengan kepala lebih dulu. 

Entah bagaiman, setelah itu beruntun kabar berita tentang kejinya para geng motor menysul tak berhenti; melalui media online dan cetak. Warga Makassar menjadi ketakutran keluar rumah. Kalau kita perhatikan di media, seolah-olah Makassar berada pada situasi darurat dan mencekam. Seorang Nitizen bahkan berkata sambil meminjam jargon  Walikota, Makassar dua kali lebih tidak aman dari palestina. Protesnya kepada Walikotra Danny Pomanto  yang justru menyumbang 100 juta rupiah untuk palestina ketimbang mengurus masalah geng motor dan keamanan kota Makassar.

Berita Tak Sedap

Melihat media online dan menyaksikan #MakassarTidakAman di media sosial siapa saja akan bergidik. Ramai diberitakan tentang situasi tak kondusif Makassar. Wajarlah kemudian orang-orang luar kota Makassar ingin tahu apa yang terjadi. Sms pun masuk kepada saya dari berbagai daerah, mempertanyakan kondisi sesungguhanya di Makassar. Sebagian bahkan ikut menebar tagar #MakassarHarusAman atas dasar keprihatinan. Saya justru tak senang. 

Kawan Muahammadiyah saya juga mengirim pesan yang sama. Mungkin anda sudah tahu, bahwa bulan agustus nanti Makassar akan diserbu kader-kader Muahammadiyah dari seluruh penjuru Indonesia. Namun setelah mendengar berita tak sedap ini, mereka jadi pasang badan. Mereka mulai mempertanyakan kesiapan kota Makassar dalam menyambut mukhtamar Muhammadiyah ke-47 tahun. Ketika sms masuk saya katakan, "datanglah, Makassar tidak seburuk yang dibayangkan" kata saya menenangkan. Dengan berseloroh Ia membalas, "Makassar harus aman dulu barulah kami bersedia datang" katanya. Membacanya saya menjadi makin gemes saja.

City Branding 

Kata Subiakto pakar branding, Brand adalah ikatan emosional antara konsumen dan produk atau perusahaan. Jadi, brand tidak akan tercipta hanya dengan iklan, logo, slogan, apalagi dengan ikon-ikon yang tidak mewakili rasa nyatanya di lapangan.  Begitu pula dengan city branding, tercipta dengan pengalaman interaksi yang dirasakan oleh turis yang berkunjung atau oleh warganya sendiri. Turis dan warga ini akan membagi pengalamannya kepada orang lain di tempat lain, terciptalah efek MOW. Apakah efeknya negatif atau positif itu tergantung pemerintah dan warga kotanya sendiri. Sayang sekali belakangan ini efek MOW yang terdengar di telinga tentang Makassar adalah kabar negatif yang tak sedap rasanya. Kecuali bagi media yang berprinsip, bad news is good news.

Setelah coba mencari tahu, baik lewat media online dan mengecek langsung di lapangan, saya menemukan bahwa kampannye dengan tagar #MakassarHarusAman ternyata menghadirkan polemik tersendiri.

Patut menjadi perhatian, kekuatan Nitizen telah menjelma menjadi sarana baru dalam demokrasi modern. Penguasa tidak lagi bisa berbuat seenaknya. Saya menyamakannya dengan Dewan Perwakilan Rakyat abad milenium. Mereka mengorganisir diri, mengadakan musyawarah, dan mengawal kebijakan tanpa bayaran. Sesuatu yang patut disyukuri. 

Namun mengapa pengawalan dan kapanye kemarin dipolemikkan? Sebenarnya semua telah setuju masalah geng motor harus segera di tuntaskan sampai ke akar-akarnya. Kita geram dan gemas melihat pemerintah dan aparat penegak hukum seperti lemah syahwat menghadapi geng motor. Tidak sebanding rasanya geng motor yang notabene remaja dan anak muda mampu membuat aparat penegak hukum yang terlatih dan memiliki peralatan canggih sampai kelimpungan nyaris putus asa.

Hanya saja sebagian menjadi kurang setuju ketika pemilihan kalimat #MakassarTidakAman yang kemudian dirubah menjadi #MakassarHarusAman digunakan dalam kampanye. Kemunculan tagar tersebut menambah ketidak pastian kemanan di kalangan masyarakat yang sudah begitu takut dengan berita geng motor yang terus memakan korban. Sekiranya, teman-teman Nitizen yang mengorganisir diri dalam masyarakat media sosial lebih memperhatikan tata kalimat suatu hari nanti. Saya pun Nitizen yang ikut mendukung kerjaa nyata pengawalan kebijakan ini, yang menurutku lebih nyata dibandingkan kerja pejabat berdasi yang katanya wakil rakayat tetapi kerjanya cuma di kantor dan kongkow-kongkow di warkop.

Mari kita kawal kebijakan, kita paksa pemerintah dan lemabaga pelayanan publik bekerja lebih keras dan lebih propesional. Jangan biarkan mereka mandul terlalu lama. Juga, Sesekali pula kita kencangkan ikat pinggang untuk keluar dari dunia maya dan berikan kerja nyata membantu penyelesaian masalah masyarakat di lapangan. Bukan kah kita negeri gotongroyong? Mari bergotongroyong, mari berjamaah, berhentilah saling melukai.

Wank RD
Mahasiswa dan Founder Annexis

0 komentar:

Posting Komentar

Simposiumx. Diberdayakan oleh Blogger.

© SIMPOSIUMX, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena